Bisnis…dan Rekreasi




Orang-orang amerika adalah individu yang bisa melakukan berbagai hal dalam satu waktu. Mereka menyeruput latte sembari mengemudi, berjalan-jalan bersama anjing sambil mengecek harga saham, dan membayar tagihan secara daring (online) sembari menonton televisi; tak heran jika tren ini telah menjelma dalam dimensi yang lebih luas. Dalam banyak sector, bisnis dan hiburan tidak lagi dianggap sebagai dua entitas terpisah. Hiburan dulu hanya sebatas taman rekreasi, taman golf mini, pertandingan bisbol, dan bioskop. Bisnis adalah kesibukan sehari-hari: bekerja, makan, belanja, dan lain-lain. Tetapi kini, dalam perekonomian pasar yang baru beranjak dari resesi, kalangan industri merasa perlu untuk memadukan bisnis dan hiburan. Perlengkapan bermain berwarna-warni di McDonald’s dan mal dengan roller coaster pertama membuka jalan bagi integrasi bisnis semacam ini yang makin dilirik.
      Apple dan Starbucks menjalin kemitraan yang memungkinkan pelanggan untuk mencoba lagu-lagu di Apple iTunes sembari menunggu antrean kopi. Pelanggan juga bisa membeli atau mengunduh lagu kesukaan mereka ke iPod touch, iPhone, PC atau Mac. JetBlue bermitra dengan XM radio sehingga dapat memberikan sampel radio satelit bagi penumpang, United Airlines menayangkan televisi satelit DirecTV di beberapa penerbangannya, dan beberapa maskapai lain menyediakan akses internet. Toko-toko Walmart tertentu memuat tayangan langsung konser musik sehingga pelanggan bisa betah berada dalam toko lebih lama. Tren yang makin berkembang ini sepertinya tidak berhenti dalam waktu singkat. Tetapi dunia bisnis harus waspada akan siklus bisnis baru yang terjadi di dunia hiburan. Perusahaan berbasis hiburan selalu berada dalam risiko deflasi yang tinggi ketika perekonomian mulai melesu. Bisnis yang mengandalkan kemitraan dengan perusahaan berisiko tinggi seperti ini mungkin tidak sestabil seperti yang terlihat.

sumber : buku berjudul Pengantar Bisnis edisi kesepuluh, penerbit : Erlangga (Ebert | Griffin)



0 komentar:

Posting Komentar